
Hari Persaudaraan Kemanusiaan Dunia, Ketua DPD RI Sebut Pancasila Mengandung Misi Perdamaian
LIPUTAN6. Din Syamsuddin, serta Dewan Perwakilan Regional Republik Indonesia (DPD RI), membuat perayaan dua resolusi PBB di gedung Nusantara IV, kompleks MPR/DPD/DPD, kompleks Jakarta pada hari Minggu (9/22025).
Peringatan Hari Persaudaraan Manusia Dunia menghadirkan tokoh -tokoh, diplomat dan pemimpin di antara agama untuk memperkuat semangat persatuan dan solidaritas global.
Dalam kegiatan ini, peserta memiliki kesempatan untuk mendengar pesan damai Paus Francis dan Grand Shaykh al-Azhar al-Sharif melalui video. dan hukuman antar -agama dari berbagai pemimpin agama di Indonesia. Momen ini adalah pengingat bahwa, di tengah -tengah perbedaan dalam keyakinan dan budaya, manusia masih memiliki hak dan tanggung jawab yang sama untuk menciptakan dunia yang lebih damai.
Presiden DPD RI, Sultan Baktiar Majamudin, menekankan bahwa perayaan ini adalah manifestasi sejati dari semangat persaudaraan kemanusiaan yang digemakan oleh Paus Francis dan imam besar al-Azhar Sheikh Ahmed El-Teyeb.
Kali ini, Sultan Baktiar menyoroti hal -hal yang mengancam perdamaian dan kebaikan kemanusiaan kemanusiaan, seperti diskriminasi, intoleransi dan konflik etnis di berbagai belahan dunia.
“Seperti yang diumumkan oleh Sekretaris PBB -Jenderal Antonio Guterres, tugas kami, termasuk para pemimpin agama, berjuang untuk dialog dan tidak mengizinkan divisi terjadi. Kita harus menghapus kebencian di mana kebencian dikendalikan dan disebarkan,” kata dalam Jacarta, Minggu (9/2).
Sebagai negara dengan keanekaragaman agama dan budaya yang luar biasa, Indonesia memiliki modal saham yang kuat untuk menjadi contoh dalam pembangunan harmoni. Sultan Baktiar Majamudin menekankan bahwa Indonesia adalah negara dan negara berdasarkan nilai -nilai keilahian, kemanusiaan dan keadilan sosial.
Dia juga menyoroti peran penting para pemimpin agama dalam menjaga stabilitas sosial di tengah -tengah berbagai tantangan global seperti konflik geopolitik, bencana alam dan perubahan iklim. Menurutnya, para pemimpin agama memiliki tanggung jawab moral untuk memperkuat solidaritas dan menjaga keseimbangan lingkungan.
Dalam refleksinya, ia mengutip ayat -ayat Al -Qur’an dan Injil sebagai pemandu dalam pembangunan persaudaraan.
“Dalam Al -Qur’an, Allah SWT berkata” InAllaha ya’murum bil adli wal ihsan “(sebenarnya dia diperintahkan untuk bersikap adil dan berbuat baik). Sementara dalam Injil disebutkan,” Cintai tetangga manusiamu seperti kamu “(Mateo 22:39).
Dia juga mengutip pernyataan presiden pertama Indonesia di Indonesia, Sukarno, bahwa siapa pun yang menganut agama -agama tertentu masih harus mempertahankan identitas kebangsaan dan budaya kepulauan.
Selain itu, Sultan Baktiar mengatakan Pancasila berisi misi perdamaian dan kemakmuran universal, di mana toleransi dan kerja sama timbal balik adalah dasar utama kehidupan bangsa.
“Tanpa toleransi dan kolaborasi, nilai -nilai Pancasila akan kehilangan maknanya,” tambahnya.
Secara berurutan, acara ini didorong oleh seni dan pertunjukan budaya antar -beragama sebagai simbol yang dapat dilakukan oleh keharmonisan melalui seni, yang merupakan bahasa kedamaian universal.
“Sebagai negara yang pluralistik, kami memiliki ideologi yang berbeda, khususnya Pancasila. Konsensus nasional yang berisi prinsip -prinsip keilahian, persatuan, kemanusiaan, demokrasi dan keadilan sosial,” katanya.